Tentang Kata-Kata, Ketakutan, dan Cara Negara Menyikapinya
Saya bukan jurnalis.
Saya juga bukan aktivis lingkungan.
Pengetahuan saya tentang isu-isu itu sangat mungkin terbatas.
Saya hanya seseorang yang membaca, menulis sesekali, dan mencoba memahami dunia dari potongan-potongan informasi yang sampai ke saya. Maka ketika membaca kabar tentang penangkapan seorang jurnalis dan aktivis di Morowali, yang muncul pertama kali bukan analisis, melainkan rasa ganjil.
![]() |
| Foto ilustrasi. (Pinterest.com) |
Penangkapan yang disertai tindakan kekerasan terhadap jurnalis Royman M. Hamid dan aktivis lingkungan Arlan Dahirin oleh polisi di Morowali, Sulawesi Tengah, dinilai terindikasi kuat sebagai kriminalisasi terhadap pembela lingkungan-BETAHITA.ID.
Penangkapan tersebut terjadi pada 3-4 Januari 2026 di Morowali. Berdasarkan rekaman video yang beredar di media sosial, aparat terlihat melakukan penangkapan secara represif, termasuk pencekikan, penguncian leher, dan penyeretan paksa, tanpa memperlihatkan surat tugas dan menyerahkan surat penangkapan terlebih dahulu.
Perasaan itu mengingatkan saya pada sebuah novel karya Tere Liye berjudul Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Novel itu—setidaknya dari pemahaman saya—bercerita tentang bagaimana kepintaran, kesadaran, dan keberanian berpikir sering kali justru membuat seseorang berada dalam masalah. Sebaliknya, kepatuhan dan kebodohan kerap terasa lebih aman.
Mungkin saya salah menangkap maksudnya. Namun perasaan itu kembali muncul ketika melihat bagaimana penangkapan tersebut dilakukan.
Saya tidak tahu detail hukumnya. Saya tidak paham prosedur jurnalistik. Tapi sebagai warga biasa, saya bertanya dengan logika paling sederhana: apakah memang harus sekeras itu? Apakah cara seperti itu satu-satunya pilihan?.
Dari apa yang tampak di ruang publik, penangkapan itu terlihat begitu besar, begitu tegang—seolah yang dihadapi bukan manusia dengan pendapat, melainkan ancaman serius bagi negara. Di titik itu, saya teringat satu ironi yang terasa dekat dengan judul novel tadi: barangkali menjadi terlalu sadar memang berisiko.
Saya pernah mendengar bahwa dalam jurnalistik ada etika, ada mekanisme, ada lembaga yang mengatur. Saya tidak mengerti betul bagaimana semuanya bekerja. Tetapi jika sistem itu memang ada, mengapa kesannya ia begitu mudah dilewati?
Saya tidak sedang membela siapa pun.
Saya juga tidak sedang menuduh aparat salah. Saya hanya mencoba membaca pesan yang sampai ke orang-orang seperti saya—orang yang tidak tahu banyak, tapi cukup peka untuk merasa takut.
Pesannya terasa sederhana: jangan terlalu pintar membaca keadaan, jangan terlalu jauh bertanya, jangan terlalu berani menulis. Karena kepintaran, dalam situasi tertentu, bisa terlihat mencurigakan.
Di novel Tere Liye itu, “bodoh” bukan sekadar soal tidak tahu, melainkan pilihan untuk bertahan. Dan entah mengapa, dalam kasus ini, logika itu terasa relevan. Seolah diam, patuh, dan tidak banyak bertanya adalah cara paling aman untuk tetap baik-baik saja.
Saya tidak paham isu lingkungan di Morowali. Saya tidak tahu konflik lahannya sedalam para aktivis. Namun saya tahu satu hal: ketika seseorang yang bekerja dengan kata-kata diperlakukan seperti ancaman, maka yang terancam bukan hanya orang itu, tetapi ruang berpikir kita bersama.
Saya menulis ini dengan penuh kesadaran bahwa pendapat saya bisa saja keliru. Bisa jadi naif. Tapi jika orang-orang yang “tidak tahu apa-apa” seperti saya saja sudah merasa cemas, barangkali masalahnya bukan pada tulisan yang terlalu berani, melainkan pada kekuasaan yang terlalu mudah merasa terancam.
Mungkin negara punya alasan.
Mungkin ada konteks yang luput dari pemberitaan. Namun seperti yang terasa dalam novel itu,sering kali yang paling aman memang adalah tidak tahu—atau pura-pura tidak tahu.
Tapi saya menulis justru karena tidak ingin sepenuhnya bodoh. Dan dari pemahaman saya yang terbatas, saya merasa kita sedang berada di masa ketika kepintaran, kesadaran, dan kata-kata mulai diperlakukan sebagai sesuatu yang perlu diawasi.
Semoga saya salah.
Karena jika tidak, barangkali kita sedang hidup di zaman di mana nasihat paling masuk akal adalah: teruslah bodoh, jangan pintar.

Komentar
Posting Komentar
Jika ada saran dan masukan bahkan kritikan sekalipun yang ingin anda sampaikan. Saya dengan senang hati menerima itu. Untuk saya jadikan sebagai pelajaran untuk saya pribadi. Terima kasih.