Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas - Eka Kurniawan.
Membaca Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan rasanya seperti diajak masuk ke dunia yang kasar sejak halaman pertama. Kekerasan, umpatan, dan hasrat seksual muncul tanpa basa-basi. Namun semakin jauh membaca, novel ini ternyata tidak sedang memamerkan kebrutalan semata. Ia justru memotret bagaimana manusia tumbuh di lingkungan yang menganggap kekerasan sebagai hal biasa, bahkan wajar. Dunia dalam novel ini bukan dunia yang kejam karena satu dua orang jahat, melainkan karena semua orang terbiasa diam.
![]() |
| *Cover novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. |
Ajo Kawir adalah contoh paling telanjang dari kegagalan itu. Impotensi yang ia alami bukan sekadar masalah biologis, melainkan pukulan telak bagi identitasnya sebagai laki-laki. Sejak kecil, ia dibesarkan dalam logika bahwa menjadi laki-laki berarti berani berkelahi, ditakuti, dan mampu menaklukkan tubuh orang lain. Ketika semua itu runtuh, yang tersisa hanyalah rasa malu dan kehampaan. Eka Kurniawan seperti ingin mengatakan bahwa maskulinitas yang dibangun di atas kekerasan tidak pernah benar-benar kokoh; ia rapuh dan mudah hancur.
Tragedi Rona Merah memperlihatkan sisi paling menyakitkan dari novel ini. Kekerasan seksual terjadi bukan karena ia sendirian, tetapi karena ia dianggap tidak lagi manusia seutuhnya. Ketika kewarasannya dipertanyakan, tubuhnya seolah bebas diperlakukan apa saja. Yang lebih mengerikan, pelakunya justru aparat, sementara masyarakat memilih memalingkan wajah. Di titik ini, novel ini terasa seperti tudingan sunyi kepada kita semua: bahwa kejahatan sering kali bertahan hidup karena dibiarkan.
Agama hadir dalam hidup Ajo Kawir, tetapi lebih sebagai rasa takut daripada kesadaran. Ia rajin beribadah setelah melihat hal-hal yang dianggap berdosa, seolah ritual mampu menghapus apa yang sudah terlanjur dilihat dan diketahui. Iman tidak membentuk empati, hanya menjadi penenang sesaat bagi hati yang gelisah. Kritik ini tidak disampaikan secara keras, tetapi terasa getir karena begitu dekat dengan realitas sehari-hari.
Di tengah kekacauan itu, Iteung muncul sebagai sosok yang berbeda. Ia bukan perempuan yang menunggu diselamatkan, melainkan seseorang yang berdiri di atas kakinya sendiri. Ia bisa bertarung, memilih, dan mencintai tanpa syarat. Ketertarikannya pada Ajo Kawir justru lahir dari ketidakutuhan, bukan keperkasaan. Cinta di sini tidak digambarkan sebagai penyembuh, melainkan sebagai penerimaan atas luka yang sama-sama dibawa.
Pada akhirnya, dendam yang dilampiaskan Ajo Kawir tidak pernah benar-benar menyelesaikan apa pun. Kekerasan memang memberi ilusi kelegaan, tetapi tidak pernah menghapus trauma. Judul novel ini terasa ironis setelah halaman terakhir ditutup: rindu dan dendam tidak benar-benar bisa dibayar tuntas. Yang tertinggal hanyalah manusia-manusia yang belajar hidup dengan luka, di tengah masyarakat yang sejak awal gagal melindungi mereka.

Komentar
Posting Komentar
Jika ada saran dan masukan bahkan kritikan sekalipun yang ingin anda sampaikan. Saya dengan senang hati menerima itu. Untuk saya jadikan sebagai pelajaran untuk saya pribadi. Terima kasih.