Relasi Timpang yang Kita Anggap Biasa: Broken Strings A memoir by Aurelie Moeremans

 

*Cover buku. (Instagram.com/aurelie)
Saya membaca Broken Strings bukan sebagai kisah pribadi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai potret kegagalan bersama. Buku ini memang berbicara tentang pengalaman seorang remaja, tetapi luka yang tercatat di dalamnya tidak tumbuh di ruang hampa. Ia tumbuh karena ada lingkungan yang permisif, budaya yang memaklumi, dan sistem yang terlalu sering memilih diam selama segalanya tampak “baik-baik saja”.

Yang paling problematik bukan hanya relasi yang timpang, melainkan bagaimana relasi semacam itu kerap dilegalkan secara sosial. Ketika perbedaan usia dan kuasa dibungkus dengan istilah “kedewasaan”, “bakat”, atau “kesempatan”, maka manipulasi kehilangan nama aslinya. Buku ini secara halus memperlihatkan bagaimana masyarakat lebih mudah mengagungkan figur dewasa yang berpengaruh ketimbang mendengarkan kegelisahan seorang anak yang belum selesai tumbuh.

Ada kecenderungan sosial untuk menunggu luka menjadi cukup dramatis agar layak dipercaya. Selama tidak ada kekerasan fisik yang kasat mata, selama korban masih terlihat berfungsi, selama hubungan itu bisa dipresentasikan sebagai konsensual, maka semuanya dianggap aman. Broken Strings justru membongkar asumsi ini: bahwa kekerasan tidak selalu datang dalam bentuk yang bisa segera dilaporkan, dan bahwa trauma sering bekerja jauh sebelum seseorang tahu dirinya sedang dilukai.

Buku ini juga menyentil cara publik memperlakukan korban setelah cerita itu dibagikan. Alih-alih bertanya “apa yang terjadi?”, kita lebih sering bertanya “kenapa kamu tidak pergi?” atau “kenapa baru sekarang bicara?”. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak netral. Ia lahir dari kebutuhan sosial untuk menjaga kenyamanan bersama, bahkan jika itu berarti meletakkan beban penjelasan sepenuhnya di pundak korban.

Di sisi lain, media dan ruang digital berperan ganda. Ia bisa menjadi ruang aman untuk bersuara, sekaligus arena baru untuk menguliti pengalaman personal menjadi konsumsi publik. Buku ini menjadi viral bukan hanya karena isinya, tetapi karena ia bertabrakan dengan budaya klik yang gemar memadatkan luka menjadi kutipan, potongan video, dan spekulasi. Dalam proses itu, cerita yang seharusnya mengajak refleksi justru berisiko direduksi menjadi tontonan.

Yang paling mengganggu mungkin adalah kesadaran bahwa kasus semacam ini bukan pengecualian, melainkan pola. Broken Strings membuka percakapan tentang bagaimana relasi kuasa masih sering disamarkan sebagai bimbingan, bagaimana anak muda dipuji karena “dewasa sebelum waktunya”, dan bagaimana batas pribadi dianggap penghalang alih-alih perlindungan. Selama pola ini terus dirayakan, luka serupa akan terus lahir, hanya dengan wajah yang berbeda.

*Foto ilustrasi. (Instagram.com/Aurelie)

Pada akhirnya, buku ini tidak hanya mengajak kita menaruh empati pada satu kisah, tetapi juga bercermin—tentang seberapa sering kita memilih diam, seberapa cepat kita merasionalisasi yang tidak pantas, dan seberapa mudah kita menyebut sesuatu sebagai cinta tanpa benar-benar memeriksa siapa yang paling banyak kehilangan di dalamnya. Bagi pembaca yang ingin menelusuri kisah ini secara langsung, Broken Strings karya AurĂ©lie Moeremans tersedia dalam format e-book dan dapat diakses melalui kanal resmi yang dibagikan oleh penulis, dengan catatan bahwa isinya memuat pengalaman dan tema yang sensitif.

Komentar

Postingan Populer