Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring

 Apakah kamu pernah mendengar novel dengan judul Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring

Sekilas, kalau membaca judulnya saja, mungkin kamu akan berpikir, “Orang kurang kerjaan banget sih baca novel dengan judul se-absurd itu?” atau bahkan bertanya-tanya, “Emang ada novel dengan judul kayak gitu?”

Buat kamu yang baru pertama kali mendengar judul tersebut, kali ini saya ingin membagikan pengalaman saya ketika membaca novel itu. Bisa dibilang ini semacam review atau bedah novel, tapi tidak sampai sedetail itu juga—karena jujur, saya bukan pembedah buku atau tukang review, saya hanya pembaca amatir yang kebetulan suka berbagi.

Oke, jadi sedikit pengantar dulu. Novel ini ditulis oleh dr. Andreas Kurniawan, Sp.KJ (semoga penulisannya benar, karena saya juga lihatnya di Mbah Google 😄). Beliau adalah seorang psikiater lulusan Universitas Indonesia yang di media sosial dikenal sebagai “psikiater yang suka bercanda.”

Buku ini merupakan proses Andreas dalam memaknai kehilangan besar dalam hidupnya. Ceritanya disampaikan dengan santai, diselipkan sedikit humor gelap, dan berisi banyak panduan kecil yang justru sangat bermakna—seperti “Tutorial Mencuci Piring”, “Tutorial Menyusun Puzzle”, hingga “Tutorial Menerima Kematian Seorang Anak”.

Andreas menulis,

“Hampir semua orang mempertanyakan: apa hubungannya antara duka dan mencuci piring? Jawaban saya adalah, duka itu seperti mencuci piring—tidak ada orang yang mau melakukannya, tapi pada akhirnya seseorang perlu melakukannya.”

Kalimat itu, bagi saya, seperti menampar dengan lembut. Karena memang benar, tidak ada yang mau ‘mengerjakan’ duka, tapi kita tetap harus menghadapinya agar hidup bisa terus berjalan.

Salah satu bagian yang paling saya ingat adalah ketika Andreas menulis tentang memecah kesedihan menjadi hal-hal kecil yang bisa dilakukan—seperti mencuci satu piring, menyusun satu potongan puzzle, atau sekadar menata kembali meja kerja. Dalam bab itu, ia menulis kira-kira seperti ini:

“Kalau kamu tak sanggup menghadapi seluruh rasa sakit itu sekaligus, hadapilah sepotong-sepotong. Tidak apa-apa. Duka tidak butuh pahlawan, hanya butuh seseorang yang mau tetap hidup meski hatinya remuk.”

Kalimat itu benar-benar melekat di kepala saya. Ia menulis dengan jujur, tidak berusaha bijak, tapi justru di sanalah kebijaksanaan itu terasa.

Setiap babnya menurut saya selalu memberi pemahaman dan pengalaman baru bagi pembaca. Apalagi pada bagian “Pidato Terakhir”, saya merasa seolah benar-benar sedang duduk dan mendengarkan pidato itu secara langsung. Ada kalimat yang saya ingat,

“Tidak semua kehilangan harus dilupakan. Beberapa kehilangan justru mengajari kita cara untuk hidup dengan lebih manusiawi.”

Kalimat itu sederhana, tapi dalam. Seolah mengingatkan bahwa kehilangan bukan akhir, tapi bagian dari cara hidup yang utuh.

Kalau kamu penasaran, silakan baca langsung novelnya. Saya berani bilang, buku ini benar-benar bagus dan worth it—terutama buat kamu yang sedang berduka, entah karena kehilangan orang tersayang, sahabat, atau bahkan hal-hal kecil seperti IPK semester yang anjlok jadi 1,29 dan bikin kamu pengen berhenti kuliah. 😅

Iqra. Bacalah, kawan.

Komentar

Postingan Populer