Membahas Nasib Sarjana, Padahal Nasib Saya Aja Masih Mystery Box

 Kami (Bukan) Sarjana Kertas karya J.S. Khairen bercerita tentang tujuh mahasiswa dari latar belakang yang beda-beda. Mereka kuliah di Kampus UDEL, kampus yang sering dipandang remeh—mirip kampus-kampus yang kalau disebut, orang langsung nanya: “Itu di mana ya?” Tapi di situlah justru serunya.

Karena Khairen nunjukin bahwa gelar yang baik tidak selalu lahir dari kampus yang “wah”. Yang penting bukan nama kampusnya, tapi bagaimana seseorang berproses.

Sebagai orang yang bahkan belum sarjana, buku ini menarik karena bikin saya melihat dunia kampus bukan dari kacamata yang keren-keren saja, tapi dari bagian remuknya juga: tekanan, perbandingan, krisis identitas, sampai momen ketika mahasiswa bertanya pelan dalam hati, “Sebenarnya gue mau jadi apa sih?”


Yang paling saya suka adalah gaya ceritanya. Simple, renyah, tapi pesan moralnya tetap dapet. Khairen seakan-akan mau bilang: “Emas tetap emas, mau jatuh di mana pun.” Dan itu relate bukan cuma buat sarjana.

Buat anak SMA, fresh graduate, pekerja, atau bahkan saya yang masih cari bentuk—pesan itu tetap kena. Ada satu kalimat Khairen yang menurut saya cukup nyentuh: “Masa depan tidak diwariskan. Masa depan itu kita bentuk sendiri.”


Kalimat itu bukan cuma buat mahasiswa UDEL dalam cerita, tapi juga buat kita semua yang lagi bingung mau melangkah ke mana. Setelah selesai membaca, saya nggak merasa lebih pintar soal dunia perkuliahan. Tapi saya merasa lebih paham bahwa semua orang punya proses. 

Dan jadi “sarjana” itu bukan soal kertasnya aja—lebih ke bagaimana seseorang berkembang selama perjalanan hidupnya.

Jadi meskipun saya belum sarjana, buku ini tetap terasa dekat. Karena intinya bukan soal gelar… tapi soal menjadi manusia yang terus belajar, apa pun statusnya.


Dan seharusnya sang penulis blog ini menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu yang diberikan dosen. Bukan sok-sokan ngomongin sarjana padahal dia sendiri belum tentu bisa lulus tepat waktu :v.

Komentar

Postingan Populer