Ketika Surga Punya Sudut Gelap: Review Santai Novel Brian Khrisna

 Beberapa waktu lalu saya lagi nyari bacaan yang bisa bikin saya merenung, tapi bukan yang bikin kepala panas kayak lagi baca teori filsafat jam 2 pagi. Maunya yang ada pahit-pahitnya, tapi masih bisa dinikmati tanpa harus minum tolak angin. Dan akhirnya ketemulah saya sama Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna.


Judulnya aja udah ancaman: “Sisi Tergelap Surga.”

Surga aja punya sisi gelap, apalagi hidup kita yang kadang terang aja nggak.

Dari awal baca, saya langsung sadar kalau buku ini bukan tipe yang kasih kamu pelukan lalu bilang, “Kamu kuat kok.” Bukan. Ini tipe buku yang duduk di sebelah kamu, ngeteh bareng, terus nyeletuk, “Bro, hidup tuh kadang nggak adil, tapi ya mau gimana lagi.”

Yang menarik, Brian menggambarkan luka dan kehilangan bukan dengan gaya yang melodramatis kayak sinetron pukul 7, tapi lebih kayak orang curhat jujur habis kena mental. Ada bagian ketika tokohnya ngerasa hidup kayak lorong gelap yang lampunya mati satu-satu. Saya baca sambil mikir,

“Iya sih… ini mirip perasaan waktu IPK tiba-tiba turun tanpa pemberitahuan.”


Ada pula momen ketika tokohnya merasa udah kuat, padahal sebenarnya cuma nahan air mata biar nggak tumpah. Jujur banget. Mirip kita yang suka bilang, “Aku baik-baik aja,” padahal baru aja scroll chat dan melihat last seen yang menyakitkan.

Yang bikin lucu, beberapa bagian tuh terasa kayak Brian lagi ngasih kode:

kalau hidup kamu lagi berantakan, tenang, kamu nggak sendirian… dan kamu juga nggak spesial. Banyak orang juga lagi remuk.

Rasanya menenangkan, sekaligus menampar.

Tapi di balik semua itu, ada kehangatan yang aneh.

Buku ini bikin kamu sadar bahwa rasa sakit itu nggak harus disembunyikan.

Kehilangan itu nggak harus dilupakan buru-buru.

Dan yang paling penting: nggak apa-apa kalau kamu belum kuat hari ini.


Singkatnya, Sisi Tergelap Surga adalah novel yang pahit, pedih, tapi tetap lucu dengan cara tertentu—kayak hidup kita. Bikin kamu merenung, tapi juga bikin kamu angguk-angguk sambil bilang,

“Yaelah, ternyata bukan gue doang yang kacau.”

Kalau kamu mau baca buku yang nggak cuma cerita tapi juga menemani, ini cocok banget.

Siapkan hati.

Siapkan camilan.

Dan kalau perlu, siapkan tisu… walaupun kamu pura-pura nggak butuh.

Komentar

Postingan Populer