Belajar Hidup ala Soleh Solihun: Jujur, Realistis, dan Bodo Amat yang Sehat

 Kamu tahu Soleh Solihun?

Kalau kata Google, dia itu aktor, penulis, stand up comedian, sutradara, mantan jurnalis, pokoknya manusia multitalenta yang kalau jadi laptop mungkin RAM-nya 32GB.

Tapi yang paling menarik dari Om Soleh bukan daftar profesinya, tapi cara dia ngomong soal hidup. Nyelekit? Iya. Bodo amat? Jelas. Tapi kalau direnungin, seringnya bener.

Kenapa Om Soleh beda dari artis lain?

Mayoritas artis itu kalau nongol di TV atau podcast, image-nya rapi banget:

lembut, santun, motivasional, kayak life coach berbaju mahal.

Tapi ya tahu sendiri, beberapa waktu kemudian muncul berita:

“ketahuan selingkuh”,

“kena kasus KDRT”,

“positif narkoba”,

atau “pencitraan gagal total”.

Sementara Om Soleh?

Ya udah, dia ngomong apa adanya. Nggak pakai topeng. Nggak pakai template motivasi.

Dan justru itu yang bikin dia relatable: jujur tanpa takut jelek, bijak tanpa sok bijak.

Pelajaran hidup versi Om Soleh

Salah satu yang sering dia ulang:

"Rasa itu datang dan pergi. Bukan buat lo peluk kayak guling semalaman".

Bahagia kelamaan bisa bikin lo lupa daratan.

Sedih kelamaan bisa bikin lo jadi fosil hidup.

Dan menurut beliau:

"Bahagia itu dinikmati, bukan dijadiin kontrakan.

Habis naik, hidup itu pasti muter lagi."

Sama juga dengan sedih.

Lo boleh jatuh, hancur, meringis sambil dengerin lagu galau.

Tapi jangan tinggal di situ terlalu lama.

Karena…

Sedih itu sinyal, bukan status pekerjaan.

Intinya apa?

Hidup itu bukan ngejar satu rasa.

Lo nggak harus bahagia terus.

Nggak harus kuat terus.

Nggak harus santai terus.

Kadang berhenti, kadang lanjut, kadang ketawa, kadang pengen resign dari hidup sebentar.

Intinya:

"senang secukupnya, sedih secukupnya—biar hidup nggak drama korea".

Komentar

Postingan Populer